Jumat, 10 Januari 2014

A. PENGERTIAN FILSAFAT
            
Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mcngenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan.

Beberapa ajaran filsafat yang  telah mengisi dan tersimpan dalam khasanah ilmu adalah:
1.      Materialisme, yang berpendapat bahwa kenyatan yang sebenarnya adalah alam semesta badaniah. Aliran ini tidak mengakui adanya kenyataan spiritual. Aliran materialisme memiliki dua variasi yaitu materialisme dialektik dan materialisme humanistis.
2.      Idealisme yang berpendapat bahwa hakikat kenyataan dunia adalah ide yang sifatnya rohani atau intelegesi. Variasi aliran ini adalah idealisme subjektif dan idealisme objektif.
3.      Realisme. Aliran ini berpendapat bahwa dunia batin/rohani dan dunia materi murupakan hakitat yang asli dan abadi.
4.      Pragmatisme merupakan aliran paham dalam filsafat yang tidak bersikap mutlak (absolut) tidak doktriner tetapi relatif tergantung kepada kemampuan minusia.
Manfaat filsafat dalam kehidupan adalah :
1.      Sebagai dasar dalam bertindak.
2.      Sebagai dasar dalam mengambil keputusan.
3.      Untuk mengurangi salah paham dan konflik.
4.      Untuk bersiap siaga menghadapi situasi dunia yang selalu berubah.

B. OBJEK FILSAFAT
Ditinjau dari segi obyektifnya, filsafat meliputi hal-hal yang ada atau dianggap dan diyakini ada, seperti manusia, dunia, tuhan dan lain-lain.
1.Ruang Lingkup Obyek Filsafat
    a.Obyek materialYaitu mengenai sesuatu yang ada dan yang mungkin ada.
    b.Obyek FormaYaitu untuk mengerti segala sesuatu yang ada sedalam-dalamnya, hakikatnya dan metafisir.
2.Cabang / Bidang Filsafat
    a.OntologiIalah bidang / cabang filsafat yang menyelidiki hakikat dan realita yang ada
    b.EpistemologiIalah suatu cabang filsafat yang membahas sumber, batas, proses hakekat dan validitas pengetahuan.  Epistemologi meliputi berbagai sarana dan tata cara penggunaan.
    c.AksiologiIalah cabang filsafat yang menyelidiki nilai. Aksiologi meliputi nilai normatif.
C.TUJUAN FILSAFAT
Tujuan, fungsi dan manfaat filsafat.
Menurut Harold H. Titus, filsafat adalah suatu usaha memahami alam semesta, maknanya dan nilainya. Apabila tujuan ilmu adalah kontrol, dan tujuan seni adalah kreativitas, kesempurnaan, bentuk keindahan komunikasi dan ekspresi, maka tujuan filsafat adalah pengertian dan kebijaksanaan (understanding and wisdom).
Dr Oemar A. Hoesin mengatakan: Ilmu memberi kepada kita pengatahuan, dan filsafat memberikan hikmah. Filsafat memberikan kepuasan kepada keinginan manusia akan pengetahuan yang tersusun dengan tertib, akan kebenaran. S. Takdir Alisyahbana menulis dalam bukunya: filsafat itu dapat memberikan ketenangan pikiran dan kemantapan hati, sekalipun menghadapi maut. Dalam tujuannya yang tunggal (yaitu kebenaran) itulah letaknya kebesaran, kemuliaan, malahan kebangsawanan filsafat di antara kerja manusia yang lain. Kebenaran dalam arti yang sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya baginya, itulah tujuan yang tertinggi dan satu-satunya. Bagi manusia, berfilsafat itu bererti mengatur hidupnya seinsaf-insafnya, senetral-netralnya dengan perasaan tanggung jawab, yakni tanggung jawab terhadap dasar hidup yang sedalam-dalamnya, baik Tuhan, alam, atau pun kebenaran. Radhakrishnan dalam bukunya, History of Philosophy, menyebutkan: Tugasfilsafat bukanlah sekadar mencerminkan semangat masa ketika kita hidup, melainkan membimbingnya maju.
Fungsi filsafat adalah kreatif, menetapkan nilai, menetapkan tujuan, menentukan arah dan menuntun pada jalan baru. Filsafat hendaknya mengilhamkan keyakinan kepada kita untuk menompang dunia baru, mencetak manusia-manusia yang menjadikan penggolongan-penggolongan berdasarkan 'nation', ras, dan keyakinankeagamaan mengabdi kepada cita mulia kemanusiaan.
           Filsafat tidak ada artinya sama sekali apabila tidak universal, baik dalam ruang lingkupnya maupun dalam semangatnya. Studi filsafat harus membantu orang-orang untuk membangun keyakinan keagamaan atas dasar yang matang secara intelektual. Filsafat dapat mendukung kepercayaan keagamaan seseorang, asal saja kepercayaan tersebut tidak bergantung pada konsepsi prailmiah yang usang, yang sempit dan yang dogmatis. Urusan (concerns) utama agama ialah harmoni, pengaturan, ikatan, pengabdian, perdamaian, kejujuran, pembebasan, dan Tuhan. Berbeda dengan pendapat Soemadi Soerjabrata, yaitu mempelajari filsafat adalah untuk mempertajamkan pikiran, maka H. De Vos berpendapat bahwa filsafat tidak hanya cukup diketahui, tetapi harus dipraktekkan dalam hidup sehari-sehari. Orang mengharapkan bahwa filsafat akan memberikan kepadanya dasar-dasar pengetahuan, yang dibutuhkan untuk hidup secara baik. Filsafat harus mengajar manusia, bagaimana ia harus hidup secara baik. Filsafat harus mengajar manusia, bagaimana ia harus hidup agar dapat menjadi manusia yang baik dan bahagia. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan filsafat adalah mencari hakikat kebenaran sesuatu, baik dalam logika (kebenaran berpikir), etika (berperilaku), maupun metafisik (hakikat keaslian).

Kamis, 03 Januari 2013


KARAKTERISTIK DAN PERBEDAAN INDIVIDU

A.    Individu dan Karakteristiknya
Manusia bila dilihat dari sifat kodratnya merupakan makhluk individu dan makhluk social. Bila dilihat dari kedudukan kodratnya merupakan makhluk pribadi yang berdiri sendiri dan sebagai makhluk tuhan.
Sebagai makhluk individu mempunyai daya jiwa dan raga yang dalam perkembangannya tak dapat dipisahkan satu sama lain. Kedua unsur tersebut merupakan monodualis, yang selalu berkembang kearah yang lebih baik. Jiwa mempunyai daya-daya seperti cipta, rasa dan karsa.
Anak didik adalah merupakan pribadi yang sedang tumbuh dan berkembang. Anak memiliki sifat-sifat yang khas yang dimiliki oleh dirinya sendiri dan tidak oleh anak yang lain. Keunikan sifat pribadi seseorang itu terbentuk karena peranan tiga faktor, yaitu: keturunan, lingkungan dan diri.
B.     Perbedaan Individu
Garry 1963 (Oxendine, 1984:317) mengkategorikan perbedaan individual ke dalam bidang-bidang berikut:
1.      Perbedaan fisik
2.      Perbedaan sosial
3.      Perbedaan kepribadian
4.      Perbedaan integensia
5.      Perbedaan kecakapan
Perbedaan tersebut disebabkan karena perbedaan kognitif, perbedaan individual dalam kecakapan bahasa, perbedaan kecerdasan, perbedaan dalam kecakapan motorik, perbedaan dalam latar belakang, perbedaan dalam bakat, perbedaan dalam kesiapan belajar.

Catatan:
1.      Hakekat Peserta Didik
·         Merupakan pribadi yang sedang berkembang
·         Pribadi yang memilih potensi baik fisik maupun psikologis yang berbeda satu sama lain sehingga merupakan pribadi yang unik.
·         Peserta didik memerlukan bantuan untuk berkembang
·         Peserta didik merupakan pribadi yang aktif.
2.      Pendidik harus punya pengetahuan yang mendalam tentang hakekat peserta didik, sehingga:
·         Memudahkan melaksanakan pendidikan
·         Menumbuhkan rasa cita kasih
·         Menghindarkan diri dari dalam kesalahan praktek pendidikan.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PROSES
DAN HASIL BELAJAR

Belajar itu mengandung tiga persoalan pokok, yaitu:
1.      Persoalan mengenai input, yaitu persoalan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi belajar.
2.      Persoalan mengenai proses, yaitu persoalan mengenai bagaimana belajar itu berlangsung dan prinsip-prinsip apa yang mempengaruhi proses belajar itu. Persoalan inilah yang merupakan persoalan inti dalam psikologi belajar.
3.      Persoalan mengenai Output, yaitu persoalan mengenai hasil belajar. Persoalan ini berkaitan dengan tujuan pendidikan, yang selanjutya dijabarkan dalam tujuan pengajaran. Satu hal yang penting dalam lingkup persoalan ini adalah pengukuran hasil belajar.
Faktor-faktor di atas akan disajikan lebih lanjut dalam empat kelompok, yaitu:
a.       Bahan atau hal yang harus di pelajari
Bahan atau hal yang harus dipelajari ikut menentukan bagaimana proses belajar itu terjadi, dan bagaimana hasilnya yang dapat diharapkan. Seperti misalnya: Belajar bahasa, belajar rangkaian huruf tanpa arti, belajar serangkaian bahan, dsb.
b.      Faktor-faktor lingkungan
Faktor-faktor lingkungan dapat dibagi menjadi dua, yaitu: Lingkungan alami dan lingkungan social.
c.       Faktor-faktor instrumental
Faktor-faktor instrumental adalah faktor yang adanya dan penggunanya dirancangkan sesuai dengan hasil belajar yang diharapkan. Misalnya: Gedung, perlengkapan sekolah, alat-alat praktikum, dsb.
d.      Kondisi individual si pelajar
1.      Kondisi fisiologis
Orang yang dalam keadaan segar jasmaninya akan berlainan belajarnya dari orang yang dalam keadaan kelelahan. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah kondisi pancaindra, terutama penglihatan dan pendengaran.
2.      Kondisi Psikologis
Semua keadaan dan fungsi psikologis tentu saja berpengaruh terhadap proses belajar yang juga bersifat psikologis itu. Ada beberapa faktor psikologis, yaitu:
a.       Minat
b.      Kecerdasan
c.       Bakat
d.      Motifasi
1.      Motivasi instrinsik
2.      Motivasi ekstrinsik
e.       Kemampuan-kemampuan kognitif

Kamis, 13 Desember 2012


                                                                                        Qodri Jamalulail

                      2012015015

 

TAMANSISWA DAN KONSEP-KONSEPNYA

 
A.  RIWAYAT
A1. “Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu!” (Soewardi Soerjaningrat, “Als Ik Eens Nederlander Was”, De Express, 1913).

A2. Sebelum terjun ke dunia pendidikan, Ki Hadjar Dewantara terkenal sebagai wartawan, penulis, politisi, dan budayawan. Ia sempat bekerja di Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara (1908 dst), aktif di Boedi Oetomo (1908 dst), Indische Partij (1912 dst), Sarasehan Malem Slasa Kliwon (1919 dst). Pada tahun 1913 bahkan pernah “diinternir” ke Belanda, dan dimanfaatkan untuk menimba ilmu baik secara formal maupun nonformal. Ia mendapatkan Europeesche Akte.

A3. Sepulang dari Belanda tahun 1919, Ki Hadjar bersama teman-teman menyelenggarakan sarasehan di halaman rumahnya (sekarang Pendopo Tamansiswa), dikenal dengan Sarasehan Malem Slasa Kliwonan. Dari forum ini muncul gagasan pendidikan; selanjutnya Ki Hadjar ditunjuk menangani pendidikan anak dan kaum muda, sedangkan Ki Ageng Suryomentaram ditunjuk menangani pendidikan kaum dewasa.

         Dipresentasi dalam Seminar Nasional Kontribusi Tamansiswa dan INS Kayutanam

           dalam membangun Karakter bangsa Masa Lalu, Masa Kini, dan

Masa Depan

           Jakarta: Depdiknas, Hotel Sahid, Ballroom Lt 2, 24 Agustus 2006

A4. Tepat pada tanggal 3 Juli 1922 bersama Soetatmo Soerjokoesoemo, Pronowidigdo, Soejopoetro, dkk, Ki Hadjar memproklamasi berdirinya Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa di Yogyakarta. Dari sini berkembanglah kemudian aneka satuan pendidikan di Tamansiswa; Taman Indriya (TK), Taman Muda (SD), Taman Dewasa (SMP), Taman Madya (SMA), Taman Karya Madya (SMK), Taman Guru (SPG), dan Sarjanawiyata (PT).

A5.  Pada tahun 1932 pemerintah kolonial Belanda melarang dijalankannya sekolah boemi putra karena dianggap berbahaya bagi eksistensi rezim kolonial. Belanda mengeluarkan kebijakan Onderwijs Ordonnantie (OO) atau Wilden Schoolen Ordonnantie (ordonansi sekolah liar), karena sekolah pribumi dianggap sekolah liar. Kebijakan ini dilawan oleh Tamansiswa dan Ki Hadjar dengan melontarkan jurus “gerakan diam” (lijdelijk verzet). Karena aksi Tamansiswa mendapat dukungan rakyat maka kebijakan OO pun akhirnya tumbang.

B.  KONSEP PENDIDIKAN
B1. Tamansiswa adalah badan perjuangan kebudayaan dan pembangunan masyarakat yang menggunakan pendidikan dalam arti luas untuk mencapai cita-citanya. Bagi Tamansiswa, pendidikan bukanlah tujuan tetapi media untuk mencapai tujuan perjuangan, yaitu mewujudkan manusia Indonesia yang merdeka lahir dan batinnya. Merdeka lahiriah artinya tidak dijajah secara fisik, ekonomi, politik, dsb; sedangkan merdeka secara batiniah adalah mampu mengendalikan keadaan.

B2. Tamansiswa anti intelektualisme; artinya siapa pun tidak boleh hanya mengagungkan kecerdasan dengan mengabaikan faktor-faktor lainnya. Tamansiswa mengajarkan azas keseimbangan (balancing), yaitu antara intelektualitas di satu sisi dan personalitas di sisi yang lain. Maksudnya agar setiap anak didik itu berkembang kecerdasan dan kepribadiannya secara seimbang.

B3.  Pendidikan Tamansiswa berciri khas Pancadarma, yaitu Kodrat Alam (memperhatikan sunatullah), Kebudayaan (menerapkan teori Trikon), Kemerdekaan (memperhatikan potensi dan minat maing-masing indi-vidu dan kelompok), Kebangsaan (berorientasi pada keutuhan bangsa dengan berbagai ragam suku), dan Kemanusiaan (menjunjung harkat dan martabat setiap orang).

B4. Tujuan pendidikan Tamansiswa adalah membangun anak didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, merdeka lahir batin, luhur akal budinya, cerdas dan berketerampilan, serta sehat jasmani dan rohaninya untuk menjadi anggota masyarakat yang mandiri dan bertanggung jawab atas kesejahteraan bangsa, tanah air, serta manusia pada umumnya. Meskipun dengan susunan kalimat yang berbeda namun tujuan pendidikan Tamansiswa ini sejalan dengan tujuan pendidikan nasional.

B5. Kalau di Barat ada “Teori Domein” yang diciptakan oleh Benjamin S. Bloom yang terdiri dari kognitif, afektif dan psikomotorik maka di Tamansiswa ada “Konsep Tringa” yang terdiri dari ngerti (mengeta-hui), ngrasa (memahami) dan nglakoni (melakukan). Maknanya ialah, tujuan belajar itu pada dasarnya ialah meningkatkan pengetahuan anak didik tentang apa yang dipelajarinya, mengasah rasa untuk meningkat-kan pemahaman tentang apa yang diketahuinya, serta meningkatkan kemampuan untuk melaksanakan apa yang dipelajarinya.

B6. Pendidikan Tamansiswa dilaksanakan berdasar Sistem Among, yaitu suatu sistem pendidikan yang berjiwa kekeluargaan dan bersendikan kodrat alam dan kemerdekaan. Dalam sistem ini setiap pendidik harus meluangkan waktu sebanyak 24 jam setiap harinya untuk memberikan pelayanan kepada anak didik sebagaimana orang tua yang memberikan pelayanan kepada anaknya.

B7. Sistem Among tersebut berdasarkan cara berlakunya disebut Sistem Tutwuri Handayani. Dalam sistem ini orientasi pendidikan adalah pada anak didik, yang dalam terminologi baru disebut student centered. Di dalam sistem ini pelaksanaan pendidikan lebih didasarkan pada minat dan potensi apa yang perlu dikembangkan pada anak didik, bukan pada minat dan kemampuan apa yang dimiliki oleh pendidik. Apabila minat anak didik ternyata akan ke luar “rel” atau pengembangan potensi anak didik di jalan yang salah maka pendidik berhak untuk meluruskannya.

B8. Untuk mencapai tujuan pendidikannya, Tamansiswa menyelanggarakan kerja sama yang selaras antartiga pusat pendidikan yaitu lingkungan keluarga, lingkungan perguruan, dan lingkungan masyarakat. Pusat pendidikan yang satu dengan yang lain hendaknya saling berkoordinasi dan saling mengisi kekurangan yang ada. Penerapan sistem pendidikan seperti ini yang dinamakan Sistem Trisentra Pendidikan atau Sistem Tripusat Pendidikan.

C.       Dinding pedoman Tamansiswa

Ki Hajar Dewantara juga pernah melontarkan konsep belajar 3 dinding. Yang dimaksud belajar dengan 3 dinding bukanlah belajar dikelas dengan jumlah dinding 3 buah ( salah satu dari 4 sisi dinding tidak ada ), tetapi konsep tersebut mencerminkan tidak ada batas atau jarak antara di dalam kelas dengan realita di luar. Belajar bukan sekedar teori dan praktek disekolah, tetapi juga belajar menghadapi realitas dunia. Sekolah dan Dunia menurut konsep ini berarti tidak terpisah. Dengan itu diharapkan para guru mengajarkan ilmu teori serta praktek di dunia dan juga kepada siswa jika tidak sungkan-sungkan menanyakan apa saja hal yang tidak diketahuinya tentang dunia kepada guru mereka masing-masing. Tujuan dari konsep ini, agar para lulusan sekolah dapat mampu hidup dan bisa berbuat banyak setelah lulus dari sekolah.

D. Ungkapan Ki Hadjar Dewantara
“Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu!”

(Soewardi Soerjaningrat, “Als Ik Eens Nederlander Was”, De Express, 1913)

         Ajaran Kepemimpinan Ki Hadjar Dewantara

Ing Ngarso Sung Tulodho artinya Ing ngarso itu didepan / dimuka, Sun berasal dari kata Ingsun yang artinya saya, Tulodo berarti tauladan. Jadi makna Ing Ngarso Sun Tulodo adalah menjadi seorang pemimpin harus mampu memberikan suri tauladan bagi orang - orang disekitarnya. Sehingga yang harus dipegang teguh oleh seseorang adalah kata suri tauladan.

Ing Madyo Mangun Karso, Ing Madyo artinya di tengah-tengah, Mangun berarti membangkitan atau menggugah dan Karso diartikan sebagai bentuk kemauan atau niat. Jadi makna dari kata itu adalah seseorang ditengah kesibukannya harus juga mampu membangkitkan atau menggugah semangat . Karena itu seseorang juga harus mampu memberikan inovasi-inovasi dilingkungannya dengan menciptakan suasana yang lebih kodusif untuk keamanan dan kenyamanan.

Demikian pula dengan kata Tut Wuri Handayani, Tut Wuri artinya mengikuti dari belakang dan handayani berati memberikan dorongan moral atau dorongan semangat. Sehingga artinya Tut Wuri Handayani ialah seseorang harus memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari belakang. Dorongan moral ini sangat dibutuhkan oleh orang - orang disekitar kita menumbuhkan motivasi dan semangat.

Jadi secara tersirat Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani berarti figur seseorang yang baik adalah disamping menjadi suri tauladan atau panutan, tetapi juga harus mampu menggugah semangat dan memberikan dorongan moral dari belakang agar orang - orang disekitarnya dapat merasa situasi yang baik dan bersahabat . Sehingga kita dapat menjadi manusia yang bermanfaat di masyarakat.

BangsaBapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara Indonesia sudah mewarisi sikap luhur pahlawan sejati dan perlu meneruskan buah pemikiran Ki Hadjar Dewantara, tentang tujuan pendidikan nasional yakni memajukan kualitas semua komponen anak bangsa secara keseluruhan. Arah tujuan hakiki bagi kemanusiaan, tanpa membeda-bedakan asal-usul, agama, etnis, suku, budaya, adat, kebiasaan, status ekonomi, status sosial, dan sebagainya. Konsep pendidikan terpadu yang harus didasarkan kepada nilai-nilai kemerdekaan yang asasi.

E. Ciri khas Tamansiswa

                     KODRAT ALAM  (Ciri khas 1 Tamansiswa) :
Sebagai perwujudan kekuasaan Tuhan YME mengandung arti bahwa hakekat umat manusia adalah menyatu dengan alam semesta dan tidak dapat lepas dari hukum kodrat alam. Manusia akan bahagia bila menyelaraskan diri dengan kodrat alam yang mengandung segala hukum kemajuan.

Hari berganti minggu, berganti bulan, berganti tahun selalu bertambah dan tidak pernah mundur ataupun berhenti, itulah kodrat alam kuasa Illahi. Budaya manusia selalu mengalami kemajuan dan interaksi antar bangsa tak terelakkan sesuai hukum kodrat alam. Demikianlah Ki Hadjar Dewantara (KHD) memberi pedoman olah budaya bangsa dengan TRIKON (Kontinyu, Konvergen, Konsentris):

         KONTINYU : Mengolah budaya bangsa secara berkesi nambungan dari masa lalu, masa kini dan masa datang. Dari generasi ke generasi menjalin rangkaian kemajuan budaya bangsa terus menerus tiada terputus.

         KONVERGEN : Tidak menutup diri dengan perkem bangan kebudayaan dunia. Dengan adaptif memilah dan memilih budaya universal yang bermanfaat bagi memperkaya perkembangan budaya bangsa sendiri.

         KONSENTRIS : Dalam mengarungi dan menyatu dengan arus budaya universal, berpegang teguh kepada budaya sendiri memperkuat kepribadian nasional. Bangsa yang besar selalu mempunyai ciri karakter budaya bangsanya.

II.    KEMERDEKAAN (Ciri khas 2 Tamansiswa) :
         Kemerdekaan mengandung arti sebagai karunia Tuhan YME kepada manusia dengan memberikan hak untuk mengatur dirinya sendiri (zelfbeschikkingsrecht) dengan mengingati syarat tertib damainya (orde en vrede) hidup bermasyarakat. Karena itu kemerdekaan diri harus diartikan sebagai swadisiplin atas dasar nilai luhur, hak hidup sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Kemerdekaan harus menjadi dasar untuk pengembangan pribadi yang kuat dan sadar dalam suasana keseimbangan dan keselarasan pribadi yang kuat dan sadar dalam kehidupan bermasyarakat.

F. Tujuan Tamansiswa
     Tujuan pendidikan Perguruan Tamansiswa adalah membangun peserta didik menjadi manusia yang merdeka lahir-batin dan tenaganya, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berbudi pekerti luhur, berakhlak mulia, cerdas dan terampil hidup, sehat jasmani rohani, menjadi anggota masyarakat yang mandiri dan bertanggung jawab atas kesejahteraan bangsa, tanah air dan umat manusia pada umumnya.

G. Sistem Among
        Among artinya mengemban, membina dengan keikhlasan hati tanpa pamrih. Pendidikan Perguruan Tamansiswa dilaksanakan menurut Sistem Among yaitu suatu system pendidikan yang berjiwa kekeluargaan :

-           Membina jiwa merdeka lahir batin dan tenaganya, melarang hukuman dengan paksaan, berazas kekeluargaan dalam proses belajar mengajar.

-           Tut wuri handayani, membina dari belakang agar anak proaktif, percaya diri. Pamong memberi pembinaan dan koreksi bila diperlukan.

-           Kodrat Dolanan Anak (kinder spellen) sebagai embrio jiwa merdeka sang anak. Motif dolanan diaplikasikan dalam KBM lebih kondusif mengurangi ketegangan.

-           Mempertajam panca indera, menambah ketrampilan/psikomotorik

-           Mengenal potensi diri, menambah PD, PBM menggembirakan

-           Mengembangkan perilaku dan lisan yang posisif sesuai adat Timur.
 
-           Mengembangkan kodrat talenta khas pribadi sang anak.

-           Berkembangnya jiwa merdeka lahir batin dan tenaga sang anak. Membentuk karakter anak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.

 
Sumber :



yogyakarta/universitas-sarjanawiyata-tamansiswa-ust

Islamic Clock


BTemplates.com

Diberdayakan oleh Blogger.

MP3

Popular Posts